Budaya & Tradisi
Temukan Keajaiban Budaya di Banceuy

Upacara Adat
Upacara adat merupakan tradisi turun-temurun yang merefleksikan kekayaan budaya dan identitas suatu masyarakat.

Kesenian Lokal
Kesenian lokal Kampung Adat Banceuy meriah dengan tradisi, upacara adat, dan permainan tradisional yang unik.

Atraksi Rakyat
Atraksi rakyat di Kampung Banceuy mengeksplorasi kearifan lokal dan tradisi musyawarah dalam masyarakat adat.
Upacara Adat Ruwatan Bumi

Ruwatan Bumi atau Ngaruwat Bumi berasal dari kata rawat atau ngarawat (bhs. Sunda) yang artinya mengumpulkan atau memelihara, secara umum memiliki makna yaitu mengumpulkan seluruh masyarakat serta mengumpulkan seluruh hasil bumi, baik bahan mentah, setengah jadi maupun yang sudah jadi.
Tujuan dari Ngaruwat Bumi adalah ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala yang telah diperoleh dari hasil bumi dan juga sebagai tolak bala serta ungkapan penghormatan kepada karuhun (leluhur).
Ruwatan Bumi kampung Banceuy dilakukan dari pagi hingga malam dan dilaksanakan pada hari rabu akhir bulan Rayagung atau bulan Dzulhijah (menjelang / menyambut tahun baru Islam).
Alasan dilaksanakannya Ngaruwat Bumi yaitu karena terjadinya bencana alam yang menimpa wilayah Kampung Banceuy pada masa lampau. Setelah terjadi kejadian tersebut maka leluhur kampung Banceuy bersama-sama melakukan upacara Ngaruwat Bumi. Itu semua dilakukan untuk mengantisipasi agar tidak terjadi bencana alam lagi. Berikut ini rangkaian acara pada ritual Ruwatan Bumi :
Dadahut
Dadahut merupakan rangkaian persiapan acara Ruwatan Bumi. Rangkaian ini meliputi berbagai pesiapan seperti membuat pintu hek dan sawen.

Ngadiukeun
Kegiatan berdo’a yang dilakukan oleh sesepuh untuk meminta kelancaran Hajat Ruwatan Bumi kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Ijab Kabul Meuncit Munding
wawaran / pengumuman yang dilakukan oleh sesepuh adat dihadapan masyarakat di lokasi tempat penyembelihan kerbau. Wawaran tersebut mengemukakan mengenai maksud dan tujuan dari upacara Ruwatan Bumi kepada masyarakat.

Ngalawar
Ngalawar dimulai dari pukul 16.00 WIB sehari sebelum pelaksanaan upacara Ruwatan Bumi. Ngalawar dimulai dengan menyimpan sesajen pada titik pusat yang ada di tengan kampung, kemudian dilanjutkan dengan menyimpan sesajen di empat penjuru mata angin.

Sholawatan
Rangkaian acara memanjatkan do’a dan puji-pujian kepada Sang Pencipta Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam.

Pertunjukan Seni Buhun Gembyung
Rangkaian acara yang dilaksanakan pada malam hari yaitu seni persembahan atau Hurmatan kepada leluhur. Dengan melantunkan lagu-lagu bersyair buhun dan bernuansa islami.

Numbal
upacara inti Ruwatan Bumi yaitu mengubur semua sesajen dan makanan yang terbuat dari beras dengan cara tertentu.

Ngarak Dewi Sri
arak-arakan mengelilingi kampung dengan tujuan tiga situs kramat leluhur. Tiga situs tersebut Antara lain makam Eyang Ito, Makam Aki Leutik dan Situs Puncak.

Nyawer Dewi Sri
Sawer dilakukan oleh sesepuh adat dengan cara melantunkan syair buhun. Sawer berisi mengenai pujian terhadap Sang Pencipta, Leluhur dan Nyi Pohaci atau Dewi Sri.

Ijab Rasul
Upacara khusus yang dilakukan oleh sesepuh adat yang dihadiri oleh penduduk kampung Adat Banceuy dan merupakan penutup upacara Ruwatan Bumi.

Pagelaran Wayang Golek
Acara hiburan masyarakan yang dilaksanakan pada malam terakhir.Dana yang dikumpulkan merupakan hasil swadaya masyarakat kampung Banceuy.
Celempung
Celempung merukan salahsatu kesenian yang berada di Kampung Adat Banceuy. Awal mula celempung di kampung adat banceuy menurut (alm) Bapak A. Rohendi, pada awalnya hanya merupakan ketidaksengajaan para penggembala ternak dan para petani ketika mengisi waktu luang di saung (pondok kecil tempat beristirahat dipinggir ladang atau sawah). Mereka memukul-mukul pembatas saung atau amben (batas pinggie saung dari bambu gelondongan), tangan kiri untuk memukul ujung amben dan tangan kanan memukul badan amben dengan sebihah bamboo atau ranting, dan sebagai pamanisnya mereka menggunakan mulut sebagai suara gong (suara yang dihasilkan berbunyi “Keung”).
Lalu mereka menerapkan cara tersebut pada satu ruas bambu, dengan membuat dua buah senar. Senar pertama dipuat sebagai kenong dan senar kedua digunakan sebagai gong, alat tersebut yang kita kenal pada saat ini adalah celempung tunggal. Seiring dengan perkembangan zaman celempung membuat berbagai inovasi, diantaranya celempung rentet dan celempung gong. Celempung pada awal 2005, celempung dikolaborasikan dengan toleat(salahsatu kesenian khas subang), karinding dan arak-arak. Lagu yang biasa dibawakan pada permainan music celempung biasanya lagu-lagu sunda pada umumnya yang berlaras salendro. Seiring dengan perkembangannya celempung menyesuaikan dengan kemajuan zaman, yakni dengan mengikuti lagu-lagu modern seperti dangdut dan lainnya.

Toleat
Gembyung merupakan kesenian buhun yang masih dipertahankan oleh masyarakat kampong adat banceuy. Gembyung terdiri dari dua kata yaitu gem yang memiliki arti ageman, dan Byung yang bermakna maha agung. Secara makna, gembyung merupakan sebuah seni persembahan yang dilakukan untuk memuji keagungan sang pencipta dan dengan dasar penyebaran agama islam disekitaran kampong adat banceuy. Seni gembyung terdiri dari 5 orang penabuh, diantaranya 3 orang penabuh terbang (gembyung, sejenis rebana yang berukuran besar), 1 orang panabuh kendang dan 1 orang panabuh kecrek. Lagu yang biasa dibawakan atau dilantunkan berjumlah 9 lagu yang berisi syair buhun dan bernuansa islami. Lagu bembyung yang biasa dibawakan diantaranya ya Bismillah, benjang, engko, keupat eundang ayun ambing, yau-yau dan siuh.

Dogdog
Pada umumnya dogdog digunakan sebagai alat muasik pada kesenian reog. Awalnya dogdog hanya digunakan sebagai alat pengalihperhatian untuk anak yang sedang dikhitan, agar anak tersebut tidak merasakan sakit ketika dikhitan. Kenapa demikian? Konon menurut cerita sesepuh, itu dimulai dari penyebaran agama islam.
Orang dulu tidak tahu persis bagai mana caranya mengkhitan itu, sehingga banyak anak yang cara pengkhitanannya salah dan menyebabkan banyak anak yang tidak mau dikhitan. Maka dibuatlah dogdog untuk menghibur dan sebagai pengalihperhatian anak tersebut ketika akan dikhitan. Suara dogdog juga memberikan isyarat bahwa cara mengkhitan itu jangan dipotong semuanya, tapi hanya sedikit dari bagian alat vital laki-laki tersebut, itu berpacu pada suara yang dihasilkan dari dogdog kecil yaitu “tung-tut” atau dalam Bahasa sunda dapat diartikan sedikit-sedikit.
Sesuai dengan perkembangan zaman, maka dogdog dijadikan sebagai alat seni pertunjukan dengan menambahkan berbagai macam lagu diantaranya kidung, kembang gadung, geboy dan masih banyak lagi. Dogdog juga sering ditambah dengan iringan tabuhan kendang dan gong.

Rengkong
Rengkong adalah alat pikul padi dari sawah ke pelataran rumah. Rengkong terbuat daro beberapa ruas bambu besar (gombong), pada ruas ujung bambu tersebut dilubangi berukuran ± 1 cm dan pangjang sesuai dengan panjang ruasan bambu. Pada tengan ruas diberi sedikit drat yang difungsikan untuk penambatan tali ijuk, sehingga dari gesekan Antara bambu dan tali ijuk itu menghasilkan bunyi yang khas. Pada saat ini, rengkong sudah dikolaborasikan dengan seni celempung sebagai seni pertunjukan pada event-event tertentu yang sering disebut cekong (celempung rengkong).

Dur Keung
Durkeung merupakan sebuah kesenian yang biasa ditampilkan disalah satu ritual nadran atau ritual khitanan yang didalamnya terdapat beberapa rangkaian upacara adat, dan salahsatunya memerlukan kesenian durkeung. Nama durkeung diambil dari suara alat musik yang ditabuh dalam kesenian ini, yaitu kata “dur” diambil dari suara bedug dan kata “Keung” diambil dari suara bendé. Karena pada kesenian ini suara yang paling dominan adalah suara bedug dan bende tersebut selain ada juga alat musik yang lainnya seperti kentung (kendang kecil), bonang ketuk dan kecrek.

Tutunggulan
Tutunggulan pada awalnya hanya keisengan ibu-ibu yang sedang menumbuk padi disebuah alat yang bernama lisung. Untuk melepas penat katika menumbuk padi mereka memukul bagian pinggir dari badan lesung sehingga menimbulkan suara yang keras. Tutunggulan dilakukan sekurang-kurangnya 6 orang sebagai penabuh. Dengan pukulan beberapa orang dan dengan irama yang berbeda (carang, kerep, bigbrig, gedug tuluy, geduk tilu, kotek), maka timbullah beberapa jenis tabuhan dalam tutunggulan diantaranya lutung luncat, keuprak daweung, sepak kuda, dan gelenyu. Selain itu juga tutunggulan biasa ditabuh pada saat terjadi samagaha (gerhana).


Miruha
Merupakan sebuah cara untuk membuat bibit api, dengan menggunakan bilah bambu dengan ukuran tertentu. Caranya dengan menggesekan antara bilah bambu yang agak besar dengan bilah bambu yang lebih kecil. Dengan irama gesekan yang teratur dan semakin cepat, maka akan muncul bibit api yang dihasikan dari gesekan tersebut dan biasanya menggunakan tiwul (serutan pangkal pelepah pohon kawung atau aren) sebagai bahan untuk menyimpan hasil miruha untuk media bakar.
Pada zaman dulu, miruha selalu dilakukan ketika akan menyalakan api di saung (pondok kecil tempat istirahat dipinggiran sawah atau ladang), dikarena pada masa itu pemetik api belum begitu umum digunakan. Tapi pada saat ini miruha dipertunjukan sebagai salah satu komoditas budaya yang dapat dipertontonkan misalnya ketika ada tamu yang berkunjung dan ingin mengetahui bagaimana cara membuat api dengan miruha.

Nyumpit
Suatu kegiatan yang menggunakan alat yaitu sumpit. Sumpit terbuat dari ruas bambutamiang sapu yang memiliki ruasan panjang dan berukuran diameter kecil. Sumpit dibuat dengan menyambungkan dua ruas atau lebih bambu tamiang sesuai dengan ukuran yang diinginkan. Sambungan antar ruas tersebut biasanya menggunakan getah pohon mangga (warga Banceuy biasa menyebutnya dengan sebutan malam) yang lengket dan tahan lama.
Selain itu sumpit menggunakan bilahan bambu kecil (agak lebih besar dari tusuk sate) sebagai peluncur atau peluru yang disebut paser. Ada dua jenis paser yakni paser polos dan paser kuli-kuli. Perbedaan Antara paser polos dan paser kuli-kuli adalah terletak pada ujung paser kuli-kuli yang ujungnya agak lebar dari paser polos dan dibuat seperti ujung mata kail, dengan tujuan apabila paser tepat sasaran, maka paser sulit untuk dicabut. Dan pada paser dibuat drat supaya paser dapat menembur target dengan cepat dan menimbulkan goresan luka yang agak lebar dari ukuran paser yang diluncurkan..
Kegiatan nyumpit pada zaman dulu dilakukan ketika berburu di hutan untuk mencari binatang buruan seperti burung. Namun kegiatan ini tidak lagi diperbolehkan karena dapat membuat populasi burung atau hewan buruan lainnya menjadi langka, sehingga kegiatan nyumpit hanya digunakan sebagai pertunjukan rakyat dengan sasaran misalnya buah papaya yang mengkal dan dilakukan di tanah lapang yang betjuan agar paser yang tidak mengenai sasaran tidak mengenai orang yang melihat permainan ini.

Kokoleceran
Kolecer merupakan permainan yang memanfaatkan tenaga angin. Kolecer terbuat dari sebilah bambu atau kayu yang keras dengan bentuk dan ukuran yang berfariasi. Kolecer dibuat dengan membuat bilah bambu atau kayu tersebut menyerupai baling-baling dengan bagian tengahnya dibuat agak tebal dan dilubangi untuk menyimpan barungbung (bagian bamboo atau kayu yang dibuat bulat dan bolong) sebagai tempat untuk memasikan gagang kolecer (yang terbuat dari bambu atau kayu). Kolecer dibuat seimbang Antara bagian kanan dan kiri dari barungbung tersebut.
Kolecer dibuat dengan berbagai ukuran, mulai dari belasan sentimeter sampai panjang mencapai 6 meter bahkan lebih. Untuk kolecer berukuran pendek agar membuat kolecer itu berputar, cukup dengan membawa lari kolecer tersebut berlawanan arah angin. Sedangkan untuk kolecer yang berukuran panjang, menggunakan tiang yang terdiri dari beberapa bambu tinggi sebagai tiang dan memakai rangkaian bambu dengan dibentuk sedemikian rupa yang biasa disebut rarangken sebagai pengganti gagang kolecer pada kolecer berukuran pendek. Apabila tenaga angin kuat, kolecer dapat menimbulkan bunyi yang cukup keras, bahkan untuk kolecer yang berukuran panjang suaranya dapat menyerupai suara petir yang menggelegar. Untuk kolecer yang berukurang panjang, biasanya disimpan atau ditanggerkeun di pematang sawah yang lapang agar dapat tertiup angindengan keras. Kolecer juga bisa dijadikan bahan hiburan pelepas penat setelah bekerja di sawah atau ladang.

Ikicibung
Icikibung merupakan permainan yang dilakukan di leuwi (kubangan besar pada aliran sungai) dengan cara memainkan telapak tangan di permukaan air agar menghasilkan suara. Pukulan telapak tangan diatur cepat dan kerasnya memukul permukaan air dengan tujuajn untuk membuat suara yang berbeda, sehingga suara tersebut bisa dibuat beberapa irama yang mengasyikkan.
Gusur Upih
Permainan ini dilakukan biasanya disawan atau ditanah lapang. Alatnya sederhana saja, yaitu pelepah pohon jambéatau pohon pinang yang biasa disebut upih. Caranya yaitu satu kelompok terdiri dari dua orang yang memiliki tuugas masing-masing, satu orang menarik upih dan satu orang lainnya duduk dipangkal pelepah upih tersebut yang memang pangkal pelepah upih memiliki ukurang yang lebar. Ini dilakukan ditanah yang agak licin dimana upih dapat meluncur dan tidak menyulitkan orang yang menarik upih. Peserta permainan tidak dibatas selagi alat tersedia, kelompok yang menjadi juara adalah kelompok yang lebih dudlu sampai ujung lintasan yang jaraknya sudak disepakati oleh semua peserta.

Engklek
Engklek dilakukan oleh beberapa orang yang tidak dibatas jumlahnya. Engklek dimainkan dilintasan yang sudah dibuat terlebih dahulu di atas tanah dengan membentuk sebuah lintasan dengan bentuk petak-petang dengan aturan tertentu. Cara bermainnya dengan cara melenparkan bilahan batu atau genting sebagai alat mereka pada tiap lintasan, mereka melintasi lintasan dengan cara kaki berjinjit memijak setiap lintasan yang sudah dibuat, siapa yang cepat menyelesaikan dari seluruh rangkaian permaian, dia berhak memilih satu area dari lintasan engkek untuk menjadi miliknya dan hanya orang yang memenangkan area itu yang dapat menginjak lintasan tersebut sedangkan peserta yang lain tidak boleh menginjak area tersebut walaupun area tersebut menghalangi permainan mereka.

Jajangkungan
Jajangkungan terbuat dari bambu yang terdiri dari bamboo panjang sebagai pijakan kaki dan bambu yang lebih pendek di bagian bawah bambu panjang sebagai pijakan kaki.

Gatrik
Sebuah permainan yang menggunakan dua bilah bamboo berukuran kecil dimana satu bamboo sebagai bahan yang dilemparkan dan yang satunya sebagai alat pemukul.

Hajat dan Ritual Adat Lainnya

Hajat Wawar
Hajat Wawar merupakan salah satu acara adat yang biasa dilaksanakan di Kampung Adat Banceuy.
Hajat Wawar merupakan salah satu acara adat yang biasa dilaksanakan di Kampung Adat Banceuy. Pengertian secara makna ialah suatu acara adat yang dilakukan oleh masing-masing lingkungan di setiap wilayah Kampung Adat Banceuy. Waktu pelaksanaan hajat wawar tidak ditentukan, tergantung dari kebutuhan wilayah masing-masing tetapi biasanya dilaksanakan paling sering 3 bulan sekali atau paling tidak 1 tahun sekali. Tujuan dari hajat wawar adalah sebagai tolak bala. Hajat wawar biasanya dilakukan apabila terjadi suatu hal yang tidak diinginkan, misalnya dalam lingkungan tersebut banyak warga yang sakit secara serentak atau banyak ternak yang mati mendadak. Sesajen dalam hajat wawar yang paling khas adalah adanya sawen. Sawen tersebut terdiri dari daun darangdan, daun tamiang dan jukut palias. Untuk sesajen makanan yang disajikan dalam hajat wawar, diusahakan harus habis oleh warga yang melaksanakan hajat wawar tersebut.

Hajat Mulud Aki Leutik
Hajat mulud Aki Leutik (nama asli: Raden Ismail Shaleh) merupakan hajat syukuran yang diselenggarakan
Hajat mulud Aki Leutik (nama asli: Raden Ismail Shaleh) merupakan hajat syukuran yang diselenggarakan khusus oleh keturunan keluarga Aki Leutik dengan tujuan meningkatkan rasa syukur dan memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Hajat ini biasa dilaksanakan setiap hari senin atau kamis pada minggu terakhir bulan mulud yang berlokasi di makam Aki Leutik. Kegiatan yang dilakukan dimulai pagi hari dengan menyembelih domba kemudian dilanjutkan dengan berdzikir dan bertasawul yang dilaksanakan di makam Aki Leutik secara tertutup. Selanjutnya acara diselenggarakan secara terbuka mempertingati maulid Nabi dari mulai pembacaan hadarah, Al-Qur’an, shalawat, sambutan, dan tausyiyah & do’a tutup diakhiri dengan pertunjukan seni gembyungsebagai hurmatan kepada leluhur.

Hajat Solokan
Hajat solokan dilaksanakan pada pertengahan usia padi dengan tujuan wujud syukur & ngalap barokah
Hajat solokan dilaksanakan pada pertengahan usia padi dengan tujuan wujud syukur & ngalap barokah agar saluran air berjalan lancar. Hajat ini dilaksanakan pada 3 (tiga) saluran air (solokan), yaitu solokan Eyang Ito, solokan Cipadaringan, dan solokan Kolong Tembok. Dua dari tiga solokan (Eyang Ito & Kolong Tembok) ditumbal dengan darah kambing sedangkan solokan Cipadaringan ditumbal dengan darah domba. Hasil sembelihan kemudian disajikan untuk dinikmati bersama dan sisanya dibawa pulang.

Mapag Cai (Ngabeungkat)
Hajat Wawar merupakan salah satu acara adat yang biasa dilaksanakan di Kampung Adat Banceuy.
Hajat Wawar merupakan salah satu acara adat yang biasa dilaksanakan di Kampung Adat Banceuy. Pengertian secara makna ialah suatu acara adat yang dilakukan oleh masing-masing lingkungan di setiap wilayah Kampung Adat Banceuy. Waktu pelaksanaan hajat wawar tidak ditentukan, tergantung dari kebutuhan wilayah masing-masing tetapi biasanya dilaksanakan paling sering 3 bulan sekali atau paling tidak 1 tahun sekali. Tujuan dari hajat wawar adalah sebagai tolak bala. Hajat wawar biasanya dilakukan apabila terjadi suatu hal yang tidak diinginkan, misalnya dalam lingkungan tersebut banyak warga yang sakit secara serentak atau banyak ternak yang mati mendadak. Sesajen dalam hajat wawar yang paling khas adalah adanya sawen. Sawen tersebut terdiri dari daun darangdan, daun tamiang dan jukut palias. Untuk sesajen makanan yang disajikan dalam hajat wawar, diusahakan harus habis oleh warga yang melaksanakan hajat wawar tersebut.

Mitembeyan Tandur
Hajat mulud Aki Leutik (nama asli: Raden Ismail Shaleh) merupakan hajat syukuran yang diselenggarakan
Hajat mulud Aki Leutik (nama asli: Raden Ismail Shaleh) merupakan hajat syukuran yang diselenggarakan khusus oleh keturunan keluarga Aki Leutik dengan tujuan meningkatkan rasa syukur dan memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Hajat ini biasa dilaksanakan setiap hari senin atau kamis pada minggu terakhir bulan mulud yang berlokasi di makam Aki Leutik. Kegiatan yang dilakukan dimulai pagi hari dengan menyembelih domba kemudian dilanjutkan dengan berdzikir dan bertasawul yang dilaksanakan di makam Aki Leutik secara tertutup. Selanjutnya acara diselenggarakan secara terbuka mempertingati maulid Nabi dari mulai pembacaan hadarah, Al-Qur’an, shalawat, sambutan, dan tausyiyah & do’a tutup diakhiri dengan pertunjukan seni gembyungsebagai hurmatan kepada leluhur.

Upacara Khitanan/ Nadran
Hajat solokan dilaksanakan pada pertengahan usia padi dengan tujuan wujud syukur & ngalap barokah
Hajat solokan dilaksanakan pada pertengahan usia padi dengan tujuan wujud syukur & ngalap barokah agar saluran air berjalan lancar. Hajat ini dilaksanakan pada 3 (tiga) saluran air (solokan), yaitu solokan Eyang Ito, solokan Cipadaringan, dan solokan Kolong Tembok. Dua dari tiga solokan (Eyang Ito & Kolong Tembok) ditumbal dengan darah kambing sedangkan solokan Cipadaringan ditumbal dengan darah domba. Hasil sembelihan kemudian disajikan untuk dinikmati bersama dan sisanya dibawa pulang.

Hajat Puput Puser
Merupakan ritual syukuran yang biasa dilakukan oleh warga banceuy ketika terlepasnya tali pusar bayi.
Merupakan ritual syukuran yang biasa dilakukan oleh warga banceuy ketika terlepasnya tali pusar bayi. Kegiatan tersebut dilakukan biasanya setelah bayi berumur 7 atau 8 hari, dengan menggunakan kunyit sebagai antiseptik bagi bayi yang dibalurkan ke seluruh bagian pusar bayi.

Ngabangsar
Kegiatan syukuran yang biasa dilakukan oleh warga banceuy ketika wanita hamil memasuki masa usia
Kegiatan syukuran yang biasa dilakukan oleh warga banceuy ketika wanita hamil memasuki masa usia kehamilan 4 bulan atau 7 bulan. Kegiatan ini dilakukan untuk mendoakan keselamatan bagi calon bayi, supaya pada saat dilahirkan diberikan kelancaran dan keselamatan, serta tidak kekurangan suatu apapun.

Hajat Safaran
Hajat safaran adalah suatu upacara adat yang dilakukan tiap bulan safar. Upacara ini dilakukan oleh orang tua
Hajat safaran adalah suatu upacara adat yang dilakukan tiap bulan safar. Upacara ini dilakukan oleh orang tua yang mempunyai anak lahir pada bulan safar. Upacara ini dilakukan bertujuan untuk memohon kepada Allah SWT, supaya anak tersebut terjauh dari marabahaya serta diberikan keselamatan, dan upacara ini juga sebagai tolak bala bagi anak tersebut. Sesuatu yang khas pada hajat safaran adalah harus adanya rebus umbi-umbian, mulai dari singkong, talas, sagu, ganyol, kacang tanah (suuk), jagung, ubi jalar dsb.



